Simpul yang Tak Terselesaikan

Posted: 3 Juli 2010 in Misc.
Tag:, ,

Dari tempat itulah semuanya dimulai. Berawal dari ketidaktahuanku tentang apa yang menjadi masalah, aku pun mencoba mencari tahu seluk-beluk dari ‘simpul’ rumit tersebut dengan persiapan yang alakadarnya. Untuk pertama, aku mencoba memulai dari yang sederhana. Yakni melakukan sebuah pengamatan. Hanya sebuah pengamatan biasa, tapi menjadi luar biasa bagiku karena biasanya aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Memang hal ini sangat tidak wajar, tapi apadaya rasa penasaranku telah menggerogoti semua sel otakku yang terus menyuruhku untuk melanjutkan ‘petualangan’ ini. Hal pertama yang kudapat dari percobaan pertama ini adalah kosong. Ya, aku tidak berhasil mendapatkan apa yang kucari. Entah apa yang terjadi, tapi semuanya tidak sesuai dengan rencana awalku. Semuanya menjadi berantakan seketika. Kucoba untuk tenang sejenak dan memikirkan langkah yang akan kuambil setelah ini.

Setelah kupikir-pikir, tidak ada gunanya aku melakukan ini semua. Tapi ya sudahlah. Tidak ada gunanya aku mundur ke belakang lagi. Semua ini harus tetap berjalan agar aku dapat menemukan titik terang dari semua ketidakjelasan ini. Jika ku kerjakan ini semua sendiri, tentu akan memakan waktu yang lama. Kuputuskan untuk mencari seorang partner yang dapat mendampingiku dalam ‘petualangan’ ini. Randy namanya. Dia salah satu teman dekatku saat masih SD dulu. Kira-kira empat tahun yang lalu saat aku bertemu terakhir dengan dia. Kucobalah hubungi nomor handphonenya. “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon periksa kembali nomor tujuan anda”, itulah yang kudengar saat mencoba menghubunginya. Kucoba ke rumahnya, tapi tidak ada tanda kehidupan yang kulihat dari luar pagar rumahnya. Rumahnya yang sekarang sudah usang dan tidak terawat. Menurut tetangganya, Randy sudah tidak ada di rumah itu sejak dua tahun yang lalu. Bertambahlah masalahku sekarang. Ya sudahlah, ini semua adalah resiko yang harus kuhadapi demi memuaskan rasa keingintahuanku.

Berhubung hari sudah malam, kuputuskan untuk mencari Randy esok hari. Dalam perjalanan pulang, kulihat sosok yang sepertinya kukenal. Dan ternyata memang benar, sosok yang kutemui itu adalah Randy. Sungguh ini seperti air segar yang kudapat di tengah gurun pasir. Langsung saja kuceritakan kepadanya apa maksudku mencarinya. Tentunya saja dia tidak langsung mengerti apa yang kuceritakan. Tapi setelah kuberitahu dia tentang si ‘Target’ dia pun akhirnya langsung mengerti. Aku mencoba membujuk dia dengan berbagai cara agar dia mau membantuku.  Sampai akhirnya dia setuju untuk ikut dalam ‘petualangan’ ini.

Sembari menapaki jalan bebatuan yang ada di kampungku, aku masih memikirkan bagaimana aku menyederhanakan simpul-simpul yang rumit ini. Memahami sebuah pola yang tidak beraturan, tidak terlihat dan tidak berbentuk ini sangatlah susah.  Apalagi ini pengalaman pertamaku menemui sebuah pola yang rumit yang tidak bisa dipecahkan hanya dari sekadar melihat dengan mata telanjang. Ya, sebuah pola yang tidak bisa terbaca oleh sang ‘Pemburu’. Sang ‘Pemburu’ membutuhkan sebuah petunjuk agar dia tahu apa, siapa dan dimana si ‘Target’ tersebut .

Entahlah sudah berapa lama aku tidak bisa tidur nyenyak karena terus terganggu oleh sesuatu yang rumit seperti ini. Sesuatu yang terus menganggu pikiran sang ‘Pemburu’. “Akan dilepaskan kemana anak panah ini?” pertanyaan itulah yang ada di pikiranku sekarang. Kena atau tidaknya anak panah yang kulepaskan tidak menjadi masalah bagiku. Selama anak panah ini masih bisa kulepaskan, itu sudah menjadi kepuasaan batin bagiku. Untuk melepaskan anak panah itu tidak bisa sembarangan. Dibutuhkan sebuah pemahaman geometri ‘ruangan’ yang tinggi. Berlebihan? Mungkin. Tapi hanya itu gambaran yang bisa kutangkap dari pikiranku saat ini. Sudahlah, aku tidak ingin memikirkan yang macam-macam lagi untuk saat ini. Yang pasti, aku sudah mempunyai partner yang akan membantuku memecahkan semua permasalahan ini.

Sesuai dengan janji, aku dan Randy bertemu di sebuah warung kopi yang berada tidak jauh dari kampungku untuk membicarakan apa yang akan kita lakukan saat ini. Sambil menikmati kopi tubruk yang masih hangat ini, aku pun memulai pembicaraan ini dengan menanyakan kabarnya dan keluarganya. Dia pun lantas menjawabnya dengan nada yang tenang dan santai yang merupakan ciri khas darinya. Tidak ada perubahan yang drastis darinya. Selalu tenang dan mudah bergaul dengan orang lain masih terlihat darinya. Pembicaraanku dengan Randy tak terasa sudah memakan waktu 2 jam. Yah setidaknya kita sudah sepakat untuk memakai rencana baru yang lebih matang dari sebelumnya. Rencana kali ini aku yakin pasti berhasil karena telah kubuat bersama partnerku yang sudah sangat mengenal medan ‘perang’ yang akan kita tuju. Sebagai persiapannya, aku dan Randy pun berbagi tugas. Untuk hal-hal yang mengenai si ‘Target’, Randy yang akan mengurusnya. Sedangkan aku hanya ditugaskan untuk mengamati dari jauh gerak-gerik si ‘Target’. Sama seperti yang pernah kulakukan saat melakukan rencana pertamaku. Tapi kali ini aku lebih yakin dalam melakukan tugasku karena sudah mempelajari kegagalan pertamaku.

Hari esoknya, sesuai dengan rencana yang telah kami buat, Randy pergi mencari informasi si ‘Target’ yang dapat dia kumpulkan untuk diberikan kepadaku. Sedangkan aku hanya menunggu kabar dari Randy karena peranku belum dimulai di sini. Peranku baru akan dimulai saat Randy kembali dari ‘petualangan’ dan memberiku semua informasi yang dia dapat dari hasil kerja kerasnya itu. Butuh beberapa bulan sampai akhirnya Randy memberitahuku semuanya. Setelah diberitahu panjang lebar oleh Randy, aku pun lantas heran dan bingung. Bukannya apa-apa, semua yang kuprediksi sebelumnya ternyata berbeda jauh dengan kenyataan yang kuperoleh.  Apapun hasilnya itu, kali ini giliranku untuk ‘tampil’. Sang ‘Pemburu’ sudah mendapatkan apa yang dia cari. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah melepaskan anak panah yang sudah ia simpan selama satu tahun.

Aku pun langsung menuju tempat dimana si ‘Target’ tersebut berada. Ternyata si ‘Target’ berada di sebuah kota yang cukup terpencil. Bahkan kalau bisa kubilang, tempat ini adalah sebuah perkampungan bukan sebuah kota. Penduduk disini mayoritas adalah petani-petani palawiija yang masih cukup konservatif dalam mengolah lahan pertanian mereka. Aku mulai mempelajari tingkah laku penduduk di sini. Hal inilah yang dapat jadi pedomanku dalam menyelesaikan sebuah ‘simpul’ rumit yang akan kutemui nanti. Memang susah mempelajari tingkah laku penduduk di sini. Sangat berbeda dengan orang-orang yang biasa kutemui di kehidupan sehari-hari.

Disaat aku sedang berjalan menulusuri perkampungan kecil ini, tiba-tiba saja ada suara orang berteriak yang tak jauh dari sini. Suara itu berasal dari sebuah rumah yang terletak bersebelahan dengan pasar tradisional kampung ini. Karena orang-orang pada berkumpul mengerumungi rumah itu, aku pun lantas penasaran dengan apa yang sedang terjadi di rumah itu dan aku pun langsung menuju rumah itu. Ketika aku mencoba mendekati rumah yang sedang dikerubungi orang-orang itu, aku ditegur oleh salah seorang penduduk disini. Entah karena apa, aku pun lantas ditarik keluar dari kerumunan orang-orang tersebut olehnya. Aku pun ditanyai olehnya tentang penyebab suara teriakan yang terdengar dari rumah tersebut. Aku pun langsung bingung keherenanan. Dalam pikiranku justru yang ada adalah sebaliknya. Aku lah yang seharusnya menanyakan apa yang terjadi. Kutinggalkan saja orang itu karena aku sendiri tidak tahu apa yang menjadi masalah di sini. Aku mencoba mendekati lagi kerumunan orang-orang itu. Dan kali ini aku mencoba melihat apa yang sedang menarik perhatian mereka. Tiba-tiba ada segelintir orang yang keluar dari rumah itu sambil menggotong seorang yang terluka parah. Dan ketika kulihat orang itu, ternyata dia adalah si ‘Target’. Langsung perasaanku berubah tidak enak. Kucoba tanyakan pada salah satu penduduk di sana yang telah menggotong orang tersebut untuk mengusir rasa tidak enak ini. Lantas orang tersebut langsung menjawab “Sayang sekali nak, orang itu sudah tidak tertolong lagi karena sudah kehilangan banyak darah”. Kakiku pun langsung terasa lemas, dan aku pun langsung menangis seketika karena aku sudah tak sanggup lagi menahan rasa sedih ini. Sia-sia semua yang telah kulakukan ini. Sudah aku korbankan semuanya demi menemui si ‘Target’. Semua pola simpul yang sudah kupelajari ini berhenti disini. Memang tragis akhir dari ‘petualangan’ sang ‘Pemburu’. Tidak mendapatkan apa yang kucari memang seperti mendapatkan sebuah bencana besar. Sudahlah, hidup ini tidak bisa diprediksi seperti sebuah cuaca dan semuanya bisa terjadi kapan saja.

Komentar
  1. Nixfar mengatakan:

    cerpen yang udah lama dibuatnya..
    ditunggu komennya (hujatan dan celaan saya terima :mrgreen: )

  2. reccarebellion mengatakan:

    Irfan nulis cerpen, woow.
    si ‘target’ nya masih blur dari cerita menurut gue, tapi baca cerpen lo serasa lagi megang kompas minggu, hahaha.

    Menunggu yang cerpen berikutnya =D

  3. I r f a n mengatakan:

    @recca
    si ‘target’ emang sengaja gw bikin blur… wah kompas minggu?
    kaeknya bisa nih gw masukin kompas minggu.. hahay

  4. broyzoans mengatakan:

    inimah yg cerpen buat tugas b.indo hahaha

  5. Nixfar mengatakan:

    @broyzoans ini cerpen mah udah lama, cuman waktu itu pas ada tugas buat cerpen, gw pake cerpen yg ini. :)

  6. F mengatakan:

    1 kata: penasaran.
    Itu targetnya siapa dan simpul apa yang mau kamu cari.
    Overall oke,bikin penasaran :’D

  7. yosua mengatakan:

    Bener ITU Kata si F ^_^

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s