I’m like a Robot, but I’m not a Robot

Saat ditanya, “Apakah keinginan anda terhadap anak anda nantinya?”
Si orang tua pun menjawab, “Saya ingin anak saya menjadi dokter. Saya ingin anak saya menjadi Pilot. Saya ingin anak saya menjadi ini dan itu”. Lalu saat ditanya kembali, “Kenapa Anda ingin anak Anda menjadi profesi tersebut?”. Si orang tua pun menjawab kembali ” Karena hal tersebut merupakan hal yang terbaik bagi anak saya”.

Hah? Hal terbaik menurut siapa? Itu hanyalah obsesi dari orang tua semata. Bukan keinginan dari seorang anak itu sendiri. Fenomena ini sering saya temui dan saya sendiri juga pernah mengalaminya. Banyak orang tua yang ketika ditanyai oleh seorang psikolog tentang bagaimana cara mendidik anak tersebut agar anak tersebut berhasil menjadi profesi tersebut, mengatakan bahwa untuk mendidik anak mereka, mereka menyekolahkan anak mereka ke sekolah-sekolah bergengsi dan kemudian memasukkan anak mereka ke sebuah kursus pendidikan.

Penggambaran yang lebih gampangnya, jika orang tua tersebut ingin anak mereka suatu saat nanti ingin menjadi insinyur, maka mereka menginstall program software Insiyur versi 1.0, kemudian jika si anak nantinya sudah lebih besar, maka diinstall software Insiyur versi 1.5, dan seterusnya sampai si anak diinstall software Insinyur Final version.

Nantinya anak tersebut bakal pintar bagaikan sebuah robot, bukan pintar sebagai seorang manusia. Bagaikan sebuah robot yang sudah dipenuhi dengan berbagai macam jenis Ensiklopedia.

Memang setiap anak perlu belajar. Karena belajar dapat mengisi otak. Tapi tidak seluruh otak dapat diisi dengan belajar. Masih banyak kegiatan lain yang dibutuhkan otak. Kegiatan-kegiatan non-akademik lah yang sangat diperlukan, terutama untuk mengembangkan potensi dari dari setiap anak maupun remaja. Banyak hal yang tidak didapatkan dari ’sekadar membaca dan memperhatikan guru’.

Lalu bagaimana bila si anak lebih menyukai mendesain gambar dan bermain musik ketimbang mengikuti ego dari orang tua mereka yang lebih menginginkan sang anak menjadi insinyur? Masih bisakah dikatakan “Ini hal yang terbaik bagi anak saya?”

So, Apakah sodara ingin dijadikan sebuah robot oleh ortu sodara? atau Apakah sodara ingin menjadikan anak sodara nantinya sebagai sebuah robot?

5 Tanggapan to this post.

  1. Ahaha. Alhmdulilh, ortu gw cma ngasi syarat : asal suxes dunia akhrat aj. Kerja mh teserah.

    Balas

  2. Posted by laraaas on 10 Februari 2009 at 9:59 pm

    hemm.. gue bgt tuh fan
    mreka blg ga mau maksain pilihan gue.. cm ujung2nya mreka sll ngarepin gue jd apa yg mreka mau..bkn jd apa yg gue mau. zzzz– grr!

    Balas

  3. Posted by montecarlomafia on 14 Februari 2009 at 2:40 pm

    alhamdulillah keinginanku sma ortu sama
    cuma yah kadang2 gitu, sedikit suka maksa

    @laras : sabar non..

    Balas

  4. ih gue juga sering mikir kaya gitu. gue ngerasa cuma jadi bahan buat nuntasin ambisi orangtua :(

    Balas

  5. Posted by reccarebellion on 5 Maret 2009 at 6:15 pm

    sabar ya kawan2. ego orangtua emang gede. =]

    Balas

Tanggapi posting ini