Bisakah Indonesia Maju Tanpa Menggunakan Bahasa Inggris?

Posted: 2 Juni 2008 in Opini
Tag:, , ,

Apakah anda tahu 95% warga Jepang tidak bisa berbahasa Inggris? Tapi kenapa negara mereka bisa maju? Lalu bagaimana dengan Indonesia yang dewasa ini selalu ‘menganggungkan’ bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Indonesia?

Lihat saja sekarang, makin banyak orang yang membuka kursus bahasa Inggris dengan tujuan agar di masa depan, kita bisa bersaing dengan orang luar. Apakah itu benar? Apakah masa depan Indonesia ditentukan oleh Bahasa Inggris yang kini menjadi bahasa Internasional?

Tentu saja tidak…. Bahasa bukanlah persoalannya…. yang menjadi persoalan adalah kemauan dari bangsa itu sendiri….. Kita bisa koq maju tanpa pake bahasa Inggris….. Jepang aja bisa, kenapa kita tidak?

Kita bisa memulainya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan suka mencampur-adukan bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia saat berbicara dengan orang lain. Bahasa Indonesia yah bahasa Indonesia….. bahasa Inggris yah bahasa Inggris….. Kemudian cobalah untuk membuat dan memperbanyak artikel/buku berbahasa Indonesia. Karena artikel/buku itu merupakan sumber pengetahuan bagi orang-orang.

Yang bisa berbahasa Inggris, cobalah untuk mentranslasikan sebuah artikel/buku berbahasa Inggris ke sebuah artikel/buku berbahasa Indonesia. Dan bagi yang tidak bisa berbahasa Inggris, cobalah anda ajak teman anda yang bisa berbahasa Inggris untuk membuat sebuah artikel/buku berbahasa Indonesia yang isinya lebih berbobot dibandingkan artikel/buku berbahasa Inggris sejenisnya.

Dengan begini, nantinya orang-orang Indonesia tidak perlu lagi melihat artikel berbahasa Inggris, karena artikel berbahasa Indonesia lebih berbobot. Dan dengan itu, kita bisa maju tanpa menggunakan bahasa Inggris…… :mrgreen:

Saya sendiri juga ikut mencoba mentranslasikan artikel-artikel berbahasa Inggris ke artikel dengan bahasa Indonesia di wikipedia meskipun bahasa Inggris saya masih tergolong intermediate. Kemaren malem saya baru menyelesaikan sebuah artikel di wikipedia Indonesia yang sebelumnya saya translasikan terlebih dahulu dari bahasa Inggris.

Jadi….. Apakah anda ingin memulai dan mencobanya? :)

About these ads
Komentar
  1. Cynanthia mengatakan:

    Saya terpaksa mencampur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kalau misalnya tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Ingat TPO :P

  2. ayaelectro mengatakan:

    sebenernya ya bisa-bisa aja. Tapi semuanya kembali kepada kemauan bangsa itu sendiri untuk maju. Jika ditinjau kembali, bahasa tidak mengambil andil begitu banyak. Yang penting kemauannya. Tapi bisa jauh lebih baik jika memiliki kemampuan berbagai bahasa, bukan hanya bahasa Inggris. Saya yakin, orang Jepang pun pasti mengandalkan satu dua orangnya untuk berkomunikasi dengan pihak asing. Bagaimana cara mereka menjual barang tanpa bantuan bahasa Inggris yang merupakan bahasa global.

  3. arda86 mengatakan:

    iya, menurut saya sih orang Indonesia kebanyakan masih kurang ato malah ngga bangga ama negaranya, kebanyakan mengkritik tapi mereka cenderung masa bodoh n ngga mengimplementasikan gimana caranya biar Indonesia jadi negara yang lepas dari kritikan yang mereka sampaikan.
    tapi bukan berarti belajar bahasa Inggris itu ngga perlu lho. trus soal translate artikel berbahasa Inggris saya setuju banget tuh. buat yang jago Inggris coba deh buka netbooks.wordpress.com. translate-in deh tuh semua e-book disitu. kalo udah email ke saya ya, puyeng banget baca bahasa Inggris yang berbau2 tekhnik :mrgreen:

  4. reccarebellion mengatakan:

    haha. bagus juga. alasan untuk semakin mencintai bahasa indonesia. postingan yang layak dilihat Pak Mufid neh.

  5. Xaliber von Reginhild mengatakan:

    Betul ini. :D Yang saya agak kecewa karena sampai ada ungkapan begini, “Ngapain belajar Bahasa Indonesia? Bahasa sendiri kok masih belajar!?”

    Padahal nyatanya…… :P

    Tapi penguasaan bahasa asing, selain bahasa nasional dan bahasa ibu, tetap penting buat hubungan internasional. Mungkin Jepang bisa maju karena terbantu SDM yang memadai, sementara Indonesia kayaknya belum ada SDM itu — padahal dari segi SDA Jepang kalah. :P

  6. satria mengatakan:

    saya setuju dengan penjelasan yang diatas….

    kita di lahirkan d indonesia
    kita di besarkan di indonesia
    kita berjuang di indonesia

    kenapa kita harus d wajibakan belajar bahasa asing,?
    sedangkan negara jepang gk bisa bahasa inggris bsa maju…..

    maka dari itu kita harus pnya kesadaran buat memajukan negara kita dengan khas kita sendiri…..

    jgn terlalu ter opsesi dengan hal yang tidak mungkin…..
    railah yang ada di depan mu dlu……

  7. scarion mengatakan:

    Maka dari itu ay bikin kata “jualikan” supaya kata “egois” hilang dari kosakata BI…

    Hidup BI!!

  8. antonia Margreta mengatakan:

    Yang punya pendapat “gak penting bahasa inggris” kan orang-orang yang males belajar bahasa, biar bagaimanapun bahasa tetap akan menjadi penghubung dari satu negara ke negara yang lain. Dan sudah jelas k’lo English is international language yang di pake di seluruh dunia. Toh kenyataanya orang indonesia mau ngobrol ma orang jepang juga pake bahasa inggris, bukan pake b. indo atau japan nya.

    Jadi, menurut saya melatih diri untuk mengusai bahasa sangat perlu sekali, dan kalo perlu kita gak cuma tahu bahasa inggris atau bahasa indo aja,

  9. jabrah mengatakan:

    bener, bang! orang indonesia cenderung gak bangga sama bahasa dan budayanya. ntar kalo udah dirampok orang, baru, deh, pada bekoar-koar. ane minta ijin copas di blog ane, bang. gak lupa, deh, nyantumin sumbernya… :D

  10. bambang mengatakan:

    Patut diakui bahwa upaya Nixfar (nama asli atau samaran?) menciptakan forum berbagi pendapat melalui situs ini telah didasari oleh kemauan dan iktikad yang sangat baik.

    Setelah mengetahui Siapa itu Nixfar, yang katanya dia hanyalah seorang pelajar SMA yang saat ini berdomsili di daerah Depok, Jawa Barat. Kalau pengakuannya itu benar, maka dapat dipahami bahwa Nixfar termasuk seseorang yang “masih” dalam taraf BELAJAR. Siapapun yang ingin maju pasti selalu BELAJAR sampai kapanpun. Semoga setelah menjadi bukan pelajar lagi, Nixfar akan tetap belajar. Mengetahui bahkan menguasai ilmu (termasuk ilmu berbahasa asing) tetap perlu sejauh tidak berdampak merugikan diri sendiri.

    Berikut ini sedikit tanggapan terhadap artikel berjudul “Bisakah Indonesia Maju Tanpa Menggunakan Bahasa Inggris?”

    Memang betul bahwa dewasa ini masyarakat Indonesia (terutama kaum muda) tampak selalu ‘menganggungkan’ bahasa Inggris dibandingkan terhadap Bahasa Indonesia. Gejala “mengagungkan ” bahasa asing ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Di zaman sebelum merdeka dan pada tahun-tahun awal kemerdekaan kita, banyak kalangan dari generasi sebelum kita melakukan hal yang sama pula, antara lain dalam penggunaan bahasa Belanda, Perancis, dan Inggris. Menurut Bung Karno, presiden kita yang pertama pada masa itu, “bangsa yang suka mengagungkan bangsa lain menandakan bahwa jiwa bangsa tersebut masih “KERDIL”. Namun dalam prakteknya, dalam berpidato, beliau juga sering mencampurkan antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Menurut kami cara tersebut sebagai upaya memberikan KEJELASAN terhadap hal-hal yang beliau ungkapkan dan terpaksa harus memetik dari istilah asing karena (pada waktu itu) masih banyak istilah asing yang belum ditemukan padan katanya dalam bahasa Indonesia. Bahkan tidak jarang, dalam menyampaikan pendapatnya yang mengunakan bahasa asing, beliau sampai “mengupasnya” kata demi kata laiknya seorang guru bahasa. Kita semua tahu bahwa beliau mampu dan dapat fasih menggunakan berbagai bahasa, mulai dari bahasa ibunya, bahasa Indonesia, bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahkan Jerman dan Jepang.
    Di tahun 1958 Pemerintah R.I. (yang masih dalam kurun kepemimpinan beliau) telah merintis, gerakan nasional, untuk menggunakan bahasa Indonesia. Kebijakan tersebut diikuti dengan mulainya penggantian nama-nama / istilah asing pada banyak perusahaan swasta dengan nama baru bernuansa indonesia , meskipun perusahaan itu berada di ibukota negara, Jakarta. Demikian pula tanda “no smoking” diganti dengan “dilarang merokok”; Pintu-pintu di tempat peturasan umum, yang semula ditulis dengan tanda “ladies” dan “gentlemen” diganti dengan “wanita” dan “priya”. Hotel “Du Pavillion” menjadi Hotel “Dibya Puri”, dan masih banyak lagi.
    Semua itu menunjukkan bahwa sebaiknya kita tetap dapat menerima bahasa asing tanpa melupakan, atau mengabaikan bahasa sendiri. Bahasa / istilah asing yang belum ada atau bahkan tidak ada padan katanya dalam bahasa indonesia umumnya dapat diadopsi menjadi istilah indonesia dengan tetap memperhatikan azas tata bahasa indonesia yang benar. Seperti “electric” menjadi “listrik”, “active” menjadi aktif, namun kata “translation” lebih tepat dengan “terjemahan”, tidak harus “translasi”.

    Kembali kepada tanggapan terhadap artikel berjudul seperti tersebut di depan, saya mencoba melihat dari tulisan / artikel itu, dan coba kita pertimbangkan bersama.

    “Apakah masa depan Indonesia ditentukan oleh Bahasa Inggris yang kini menjadi bahasa Internasional?” Jawabannya pasti tidak. Kita semua tahu bahwa banyak contoh dari negara-negara lain yang mampu mencapai kemajuan (bahkan dengan sangat pesat) tanpa ketergantungan akan penggunaan bahasa asing. Memang benar bahwa bahasa Inggris sudah diakui sebagai bahasa internasional bukan semenjak kini saja.

    Ajakan NiXFAR dengan kalimat “Kita bisa memulainya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan suka mencampur-adukan bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia saat berbicara dengan orang lain”. Harus disambut dengan baik. Hanya saja penggunaan kata “bisa” pada kalimat tersebut masih bersifat tidak resmi ( kata “dapat” akan lebih mencerminkan istilah bahasa Indonesia yang baik dan benar). Dewasa ini memang banyak kalangan muda bahkan para pejabat resmi yang masih rancu dalam berbahasa Indonesia (bauk lisan, maupun tulis). Kata “bisa” pernah dibahas dalam suatu acara di TVRI yang pada acara itu oleh nara sumber ahli bahasa Indonesia disampaikan bahwa kata “bisa” merupakan terapan tidak resmi dari kata “biso” (bahasa Jawa yang artinya “dapat”. Namun dalam bahasa Jawa, kata biso juga bermakna “wiso” yang dalam bahasa Indonesia disebut “bisa” untuk suatu cairan beracun yang dikeluarkan dari kelenjar liur seekor ular).
    Demikian pula pada kalimat “Kita bisa koq maju tanpa pake bahasa Inggris”. Rupanya masih banyak di antara kita yang belum mahir benar berbahasa Indonesia yang baik dan benar”, contohnya kata-kata : ‘bisa, koq, dan pake’ sebagai pengganti “dapat”, koq (maksudnya menuliskan ungkapan lisan “ko’ / kok seperti dalam kata keperGOK, cangKOK, dan sebaginya. Huruf “Q” tidak lazim digunakan dalam bahasa Indonesia).
    Nixfar juga menulis ;” Saya sendiri juga ikut mencoba mentranslasikan artikel-artikel berbahasa Inggris ke artikel dengan bahasa Indonesia di wikipedia meskipun bahasa Inggris saya masih tergolong intermediate. Kemaren malem… dst, dst.”
    Penggunaan kata-kata mentranslasikan (menterjemahkan), “intermediate” (sedang, menengah,), kemaren (kemarin), malem (malam), masih menunjukkan bahwa kita masih sulit untuk menghindarkan diri dari kebiasaan “jangan suka mencampur-adukan antara bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia”, termasuk bahasa “gaul” yang sangat disukai oleh kalangan muda.
    Semoga sumbang saran ini menjadi renungan kita semua. Kobarkan semangat “gunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar” untuk menuju kemajuan bangsa Indonesia, Kita adalah bangsa yang besar, bukan kerdil.
    Terima kasih.

    Catatan: pada blog ini masih terdapat phrasa dan kata yang masih mencampurkan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris seperti : Take it easy, but take it; tanggapan to this post, tanggapi posting ini; E-mail (will not be published)(wajib); Situs web….

  11. phuthiethaa mengatakan:

    ayo seluruh rakyat indonesia cintai bahasa kita sendiri tpi kita tetap berjaga-jga dengan bahasa inggris sipa tahu kita pergi keluar negri he…he….

  12. JONAS MASTER EMOTICON mengatakan:

    s ♫ e ≈ s ↓ ¶5 ß r O ┼ hahaha

  13. Cristover Togu Manik mengatakan:

    ayo seluruh rakyat indonesia cintai bahasa kita sendiri tpi kita tetap berjaga-jga dengan bahasa inggris sipa tahu kita pergi keluar negri he…he….
    gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s