Sisi gelap kelas internasional

Posted: 22 Januari 2008 in My Daily, Opini
Tag:, , , ,

Akhirnya, hari ini saya buat postingan lagi di blog setelah sebelumnya saya tidak membuat postingan karena ada beberapa hal, salah satunya bad mood. Tahu kenapa saya bad mood akhir-akhir ini? Jawabannya gampang, saya sudah mulai muak dan bosan dengan kelas saya, yang saya maksudkan disini bukan temen-temen sekelas saya, tapi saya sudah muak dengan gaya dan sistem pembelajaran di kelas saya. Oh ya, saya sekolah di SMA 81 Jakarta, tapi saya masuk ke kelas internasional. Lalu ada apa dengan kelas saya?

Sebelum saya menjawab itu, terlebih dahulu saya akan menjelaskan tentang kelas internasional. Apa yang dimaksud dengan kelas internasional? Sebenarnya tidak ada definisi yang jelas dan tepat mengenai ini. Kita tahu, bahwa pada tahun 2003 (kalau tidak salah) pemerintah telah menetapkan UU tentang sistem pembelajaran yang mendasarkan pada sistem pembelajaran internasional. Di UU tersebut, banyak dijelaskan tentang hal-hal yang berkait dengan sistem pembelajaran internasional. Nah, setelah UU tersebut dibuat, banyak sekolah negeri maupun swasta yang merubah sistem pendidikan mereka yang berbasis internasional, yang kemudian muncul lah Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI). Jika suatu sekolah mengacu pada sistem tersebut, maka secara otomatis mereka akan mengubah kurikulum, standar penilaian dan tentu saja fasilitas sekolah yang semuanya berbasis internasional.

Bagi beberapa orang yang masih ‘buta’ akan definisi dan sistemnya, tentu saja mereka tertarik untuk mendaftarkan diri/anak mereka untuk bergabung ke sekolah-sekolah tersebut. Yah asal tahu saja, biaya yang diperlukan untuk masuk ke sekolah internasional tidaklah sedikit. Oleh karena itu, beberapa sekolah hanya membuat satu kelas saja untuk mereka yang tertarik dengan pembelajaran ini. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak mampu untuk mendaftar? jawabannya selalu sama di setiap ‘episode’, yaitu si miskin tertindas, si kaya berkuasa. Bukankah sistem ini tidak adil? yah, beginilah manusia. Kadangkala mereka berbuat tanpa memikirkan yang lain. Mereka hanya melihat beberapa golongan saja.

Selanjutnya, bagi pelajar yang sudah diterima di kelas internasional tersebut, mereka akan ‘dibekali’ dengan beberapa fasilitas istimewa agar terlihat lebih “internasional” dari yang lain. Kalo saya, dikasih laptop. Tapi sistem penggunaan laptopnya secara berkelompok. Jadi laptop-laptop itu akan dibagikan untuk setiap kelompok. Nah, “cerita” sebenarnya akan berlangsung setelah ini. Bagi saya yang waktu itu masih sangat “hijau”, tentu saja akan menganggap bahwa kelas internasional itu bagus, hebat, dan mantap. Di awal-awal ‘episode’ ini, sistem pembelajaran berlangsung menarik dan tidak membosankan. Yah, walaupun ada beberapa guru yang ngajarnya agak membosankan.

Oh ya, berhubung saya masuk kelas internasional, tentu saja buku nya harus “internasional” juga. Buku standar saya berasal dari singapur, penerbitnya longman. Bukunya bagus, full color, dan tentu saja sangat tebal :mrgreen: . Jika melihat dari standar buku itu, semua buku-buku itu diselesaikan selama 4 tahun. Akan tetapi, berhubung pemerintah belum memberikan standar yang tepat dan jelas, maka sekolah saya pun menetapkan standar yang menurut saya cukup gila. Mengapa? Kepala sekolah saya mengatakan, bahwa buku-buku itu harus diselesaikan maksimal dalam 1,5 tahun. Tentu saja, saya yang waktu itu mendengar hal itu sangat kaget dan sedikit depresi karena buku yang tebalnya sama kayak kamus itu harus diselesaikan selama 1,5 tahun. Ada beberapa teman saya mengkritik akan hal itu. Tapi kemudian wali kelas saya menerangkan bahwa, dalam sistem internasional ada 2 level yang harus ditempuh. Yang pertama itu, O’ level (Ordinary Level).Di sini merupakan langkah awal untuk menuju level selanjutnya. Di tingkat selanjutnya ada A’ level (Advance Level). Di tingkat ini, merupakan tingkat tersulit dan terpanjang yang akan ditempuh. Dan saat ini saya berada di O’ level.

Masalah yang terjadi di sekolah saya (dan beberapa sekolah lain), yaitu sistem pembelajaran internasional ini terkesan seperti kelas akselerasi. Saya sebagai pelajar, tentu saja sangat merasakan beban ini. Buku O’ Level ini, harus diselesaikan dalam 1,5 tahun. Selanjutnya, akan diganti dengan buku A’ Level yang akan diselesaikan dalam 1,5 tahun juga. Buku-buku O’ level dan A’ level itu seharusnya masing-masing diselesaikan selama 4 tahun (sesuai dengan standar buku tersebut). Tapi semua buku itu harus diselesaikan selama 1,5 tahun. Bayangkan itu!

Di luar negeri saja, kelas internasional sama kayak kelas reguler. Engga’ ada tuh, kelas internasional yang belajarnya kayak kelas akselerasi. Kalo kelas akselerasi, memang ditujukan untuk pelajar yang senang ingin belajar dengan cepat dan ingin cepat lulus untuk menempuh jejang selanjutnya. Tapi, kelas internasional itu tidak dapat disamakan dengan kelas aksel. Lihat saja sekarang, kelas saya yang mengikuti gaya akselerasi ini, nilai rata-rata semua siswa di semua pelajarannya sangat dibawah standar internasional. Beginilah Indonesia. Apa-apa serba maksa. Akhir-akhirnya, muridnya yang jadi korban ini.
Saya sempat berpikir, apa gunanya didirikan sekolah/kelas internasional? Apakah ingin memperbaiki nama baik Indonesia di mata dunia? Kalo ingin memperbaiki nama baik di mata dunia sih gampang aja. Tumpas semua korupsi, tangkepin tuh para koruptor. Hanya dengan begitu saja, nama baik Indonesia sudah dapat terangkat di mata dunia. Lalu saya berpikir lagi, jika pemerintah ingin memperbaiki citra pendidikan Indonesia, emangnya harus buat sekolah-sekolah nasional berbasis internasional? Lha, emangnya kualitas sekolah unggulan nasional engga’ bagus? Engga’ cukup buat memperbaiki nama baik? Banyak kok, sekolah-sekolah unggulan Indonesia yang menghasilkan pelajar berkualitas dan mampu bersaing di luar. Lalu kenapa harus buat SNBI kalo sekolah-sekolah unggulan tersebut mampu ‘mencetak’ sebuah prestasi di luar? Yah satu saran saya, Pemerintah tinggal mengoptimalkan sekolah-sekolah unggulan tersebut. Engga’ usah buat sistem SNBI segala. Lihat, dengan sistem SNBI akan memecah belah antara si Miskin dan si Kaya. Maka dari itu, pemerintah segera memperbaiki sistem pendidikan tentang hal ini. Jika tidak, masa depan pendidikan Indonesia akan semakin suram.

Komentar
  1. scarion mengatakan:

    enggak ah, kelas kita kan terang, ga gelap
    rotfl

  2. Cynanthia mengatakan:

    Nyah, saya nggak ngerti sama orang-orang Depdiknas. Mereka tuh beneran melakukan kajian ngga’, sih?! :evil:

  3. neorhazes mengatakan:

    -__-;

    ini karna kita nurut diknas..

    jadi, rumusnya

    KI = 2 X Axelmania + Kuliah

    @scarion: klas kita kan warung rmang2..

  4. nixfar mengatakan:

    @scarion
    Hahaha…… wong kelas kita kyk wong deso

    @Cynanthia
    Ntahlah…… negara kite pengennya cuman memperbaiki nama baik doang….. kagak mikirin pelajarnya yang akhirnya jadi korban

    @neorhazes
    Bener banget…… ente kagak masuk yah…??? Stress?? :lol:

  5. maxbreaker mengatakan:

    saya mah bahagia sekolah di sekolah saya yang jauh dari keramaian kota ini… :-)
    walau fasilitasnya sucks….
    BTW kamu ikut Olimpiade gak fan?

  6. neorhazes mengatakan:

    @ maxbreaker : nixfar ikutan olimpiade? -__-;;; . jauh dari angan. nilai aja maennya diangka sol-la-si-doo
    sama kaya yang laen. termasuk gue ama scarion noh. jangan bayangin anak inter itu pinter, walopun katanye terpilih. 0__0; :lol:

  7. Cynanthia mengatakan:

    Aku kini setres di sekolahku sekarang… SMA favorit yang benar-benar bikin stres… :(

  8. sentauruels mengatakan:

    -_________-
    @ nixfar : yaa.. emg korupsi hrs dibrantas, tapi gimana mo dibrantas? kalo generasi muda nya aja udah pada korup. repot nya ngebenerin system pemerintahan indonesia. Ancur semua!!

  9. reccarebellion mengatakan:

    Huwoooh.. kelas kita emang gelap kok, klo lagi nyalain proyektor itu…

    Hhehehe. pisss~

    bukan itu yang gw maksud si…
    Arrrgghhh, yang bikin mumet itu antara UN dan tes nya.

    Yah, guru2 menyarankan agar kita fokus di satu tempat aja…
    tapi2….

    huwaaaaaaaaaaaaa…………

  10. sapa kek mengatakan:

    sebenernya sih kalo dipikir”, gimana juga mau menumpas korupsi pejabat.. anak” sekolahan aja udah pada sering korupsi..

    kalo ulangan pada males mikir sendiri.. paling nanya temen. itu sih sama aja korupsi nilai. Yang bukan hak kita, kita ambil.
    tapi memang sistem pendidikan kita juga yang aneh. Cari ilmu? apa cari nilai?

    jadi, kalo mau berantas korupsi, emang harus mulai dari diri sendiri.. kalo kita udah bener, baru deh ingetin yang lain-lain.

  11. nixfar mengatakan:

    @maxbreaker
    Wah….. saya mah ga’ ikut olimpiade kayak begituan… seperti yang dikatakan neorhazes, anak2 KI jarang yg ikut olimpiade kayak begituan….. :mrgreen:

    @Cynanthia
    Sama bro….. ane juga skul di sekolah yang bikin stres

    @sentauruels
    hah? Lho ane kan nulis tentang “kelas internasiona”…. kenapa nyambungnya ke korupsi?

    @reccarebellion
    ahaha~~ salah satu korban KI (termasuk ane sih) :mrgreen:

    @sapa kek
    yup….. bener banget

  12. Xaliber von Reginhild mengatakan:

    Hmm.. begitu to.

    Err, tunggu. Apakah universitas dengan taraf internasional juga bernasib serupa seperti ini? o_o

  13. nixfar mengatakan:

    @Xaliber von Reginhild
    Kemungkinan besar sih seperti ini…… karena pemerintah sendiri belom membuat peraturan yang jelas mengenai hal ini…… :D

  14. missglasses mengatakan:

    hmm, aksel ya, jd terkenang smp dulu :P . gue jg ngalamin ko. cuma have fun aja. emang inter di 81 separah itu ya?

  15. nita mengatakan:

    wah,,,

    gua jadi takut ni masuk snbi…

    ortu gua si,,,

    kepengenya ku masuk aksel,,,

    tapi kayaknya susahan snbi ya daripada aksel,,,

    menurut kamu gimana?

  16. jadi2an mengatakan:

    gw terlanjur masuk KI !!!!!!!!!!!

  17. misswardhani mengatakan:

    Dear Friend,

    Konsep kelas internasional memang sepertinya belum terlalu matang di pikirkan oleh para petinggi pendidikan kita, dan yang jadi korban adalah siswa.

    Mungkin banyak juga siswa yang setelah tahu dan belajar di kelas internasional merasa kecewa atau terbebani dengan format kelas yang berbeda dari yang mereka bayangkan.

    Kepala sekolah di tempat saya mengajar juga pernah bercerita bahwa kepala sekolah sebuah SMP yang memiliki kelas internasional berkata bahwa sebenarnya konsep kelas internasional itu sendiri masih belum jelas, acuan dari kelas internasional selama ini hanya dari cara mengajar yang menggunakan bahasa inggris untuk semua pelajaran dan buku-buku paket/pegangan yang terbitan luar negeri, untuk sistem penilaian dan kurikulum masih perlu dipertanyakan

  18. didi hernandi mengatakan:

    Bangga.. Ga semua anak seumur kamu mampu bikin Blog n Curhat seperti ini..

    Good or Bad mengenai Sekolah/Kelas Intl, itu adalah Sekolah/Kelas kamu.. Kalo ga suka/cocok, keluar aja? Atau minta kelas biasa? Gengsi? Ke laut aja kalo gitu..

    Yg penting kamu sampaikan apa yg ada dlm pikiran/hati kamu.. Kalo ga, nanti jadi penyakit.. migrain, pusing, dsb.

    Keep blogging, mudah2an membuat kamu lebih sehat..

    Salam,

  19. ifah mengatakan:

    baru tau tu anak snbi smpe stres bgitu . .
    sabar aja ya ,
    innallaha ma’ashshobiriin :-)

  20. jober mengatakan:

    Betul Sob… Lebih baik pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan nasionalnya dulu, klo kaya gini caranya sama aja menambah jurang pemisah antara si miskin & kaya..
    Mudah2an para peminpin kita di pemerintahan sana bisa baca artikel lu sob.. biar merka sadar meningkatkan kualitas bukan harus sok sama2an ma negara luar tp meningkatkan daya pikir & kreatifitas pelajar2 di Indonesia..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s